Begini Penjelasan Trading Forex dalam Hukum Islam

0
11
trading forex

Banyak orang beranggapan bahwa trading Forex itu haram dan sering disamakan dengan kegiatan berjudi yang sifatnya spekulatif. Hal ini didasari alasan karena seorang trader yang bermain dalam trading forex mendistribusikan modalnya ke dalam jenis mata uang tertentu. Kemudian, melakukan kegiatan jual dan beli sembari melihat naik turunnya harga. Selain itu juga banyak anggapan mengenai bisnis seperti trading forex ini yang seperti terlihat tidak riil atau nyata dan dipandang negatif.

Lantas bagaimana trading forex ini dilihat dari hukum Islam?

Dalam fiqih, trading forex ini dikenal dengan Al-sharf yakni jual beli mata uang. Pada dasarnya barter mata uang asing di pasaran tunai hukumnya boleh. Hal ini berdasarkan makna hadis Nabi riwayat Imam Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Imam Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Selain itu berdasarkan hasil rapat pleno Dewan Syariah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar pada tanggal 28 Maret 2010 lalu menetapkan bahwa transaksi jual beli mata uang asing atau forex hukumnya boleh dilakukan namun dengan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan). Dalam artian semacam tebak menebak harga. Kalau beruntung mendapatkan barang yang bagus, kalau tidak beruntung mendapatkan barang yang jelek.

2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).

3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).

4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai.

Selain itu, dalam melakukan transaksi jual beli mata uang juga terdapat jenis-jenisnya yaitu sebagai berikut.

1. Transaksi Spot, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi internasional.

2. Transaksi Forward, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2×24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa’adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah)

3. Transaksi Swap yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

4. Transaksi Option yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

Dalam buku yang ditulis oleh Prof. Drs. Masjfuk Zuhdi yang berjudul Masail Fiqhiyah; Kapita Selecta Hukum Islam, diperoleh bahwa trading Forex juga diperbolehkan dalam hukum islam.

Perdagangan valuta asing timbul karena adanya perdagangan barang-barang kebutuhan/komoditi antar negara yang bersifat internasional. Perdagangan (Ekspor-Impor) ini tentu memerlukan alat bayar yaitu uang yang masing-masing negara mempunyai ketentuan sendiri dan berbeda satu sama lainnya sesuai dengan penawaran dan permintaan diantara negara-negara tersebut sehingga timbul perbandungan nilai mata uang antar negara.

Perbandingan nilai mata uang antar negara terkumpul dalam suatu bursa atau pasar yang bersifat internasional dan terikat dalam suatu kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya ini berubah (berfluktuasi) setiap saat sesuai volume permintaan dan penawarannya. Adanya permintaan dan penawaran inilah yang menimbulkan transaksi mata uang. Yang secara nyata hanyalah tukar-menukar mata uang yang berbeda nilai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here