Chart Candlesticks Jepang dalam Trading Forex

0
16
candlesticks

Saat ini, Candlesticks ada di mana-mana dalam semua bentuk tradingan.

Candlesticks dipopulerkan di Barat sekitar 25 tahun yang lalu. Orang pertama yang mengungkapkan grafik ini ke belahan bumi Barat adalah Steve Nison, yang menulis buku berjudul Japanese Candlestick Charting Techniques, dan diterbitkan pada tahun 1991.

Steve Nison dan Candlesticks

Sebelum Steve menulis buku tersebut, dia melakukan perjalanan ke Jepang dan terpesona dengan cara trader Jepang memandang market. Saat itu, hampir tidak ada yang tahu tentang Candlesticks dan grafik batang mendominasi market di Barat.

Steve Nison, yang dibesarkan dengan ajaran Charles Dow, terkejut melihat bahwa Jepang telah memiliki dasar yang mapan untuk analisis teknis  yang tidak berasal dari karya Dow. Jadi siapa yang membuat ini?

Bapak Candlesticks yang juga Miliarder beras

Bapak Candlesticks adalah Munehisa Homma yang lahir pada tahun 1724 di kota Sakata. Kota ini merupakan pelabuhan utama dan salah satu pusat perdagangan beras. Keluarga Homma memiliki perkebunan padi yang luas dan juga terlibat dalam perdagangan beras.

Pada 1750, setelah kematian ayahnya, Munehisa sebagai putra bungsu mulai mengelola usaha keluarganya. Hal ini bertentangan dengan tradisi yang menyatakan bahwa putra tertua yang seharusnya menjadi pewaris bisnis ayahnya. Namun Munehisa dapat mengelolanya dengan sukses. Kemudian dia memindahkan usahanya ke Osaka dan Edo dan menghasilkan banyak uang.

Ada desas-desus Munehisa melakukan ratusan transaksi yang menguntungkan secara berturut-turut. Homma menghasilkan $ 10 miliar dalam perdagangan dollar hari ini di pasar beras Jepang.

Belakangan, ketika pemerintah secara resmi mengesahkan perdagangan pertukaran beras, ia diundang untuk bekerja sebagai penasihat keuangan.

Candlesticks

Saat itu di Jepang, beras bukan hanya tanaman pangan utama dan bahan mentah untuk banyak produk dan barang, tetapi juga dasar kesejahteraan masyarakat. Misalnya, dalam kondisi depresiasi uang yang tak terhindarkan, pemerintah memungut pajak dan membayar gaji dengan beras.

Perdangan beras terbesar di Jepang bernama Dojima terletak di Osaka. Lebih dari 1.300 pedagang beras beroperasi di kota itu. Harga di pasar Osaka telah mempengaruhi harga beras di seluruh negeri.

Sampai sekitar 1710, hanya perdagangan fisik beras yang dilakukan. Kemudian, muncul apa yang disebut “kupon beras.” Setiap kupon merupakan tanda terima persediaan beras untuk panen berikutnya, terkadang untuk beberapa tahun sebelumnya.

Tanda terima tersebut dikeluarkan oleh tuan-tuan feodal besar. Kupon dapat berpindah dari tangan ke tangan, dan harganya bervariasi tergantung pada ekspektasi pasar (dipengaruhi oleh faktor obyektif seperti cuaca, volume stok, panen di masa depan, dan spekulasi).

Ying dan yang

Berkat kekayaan dan pengaruhnya, Munehisa memiliki akses ke informasi apa pun tentang negara dan kondisi market. Selain itu, selama bertahun-tahun Munehisa melakukan pengamatan rutin terhadap cuaca, yang merupakan analisis mendasar untuk beras.

Kabarnya, Munehisa membuat jalur komunikasi berupa  “telegraf manusia”, sebagai sumber informasi tentang perbedaan harga secara real time.

Sepanjang jalan antara Osaka dan Sakata (600 km), dia menempatkan petugas sinyal di atap gedung, puncak bukit dan pegunungan, yang menggunakan bendera berbeda untuk menyampaikan informasi tentang perdagangan dan pesanan untuk transaksi, memberi informasi tentang fluktuasi harga beras.

Namun, pencapaian terpentingnya adalah soal “psikologi pasar”. Selama 15 tahun, Munehisa mempelajari harga beras sepanjang sejarah perdagangan untuk mengidentifikasi pola perilaku trader dan menemukan bahwa aspek psikologis sangat penting di pasar keuangan, dan emosi trader memiliki pengaruh yang menentukan tentang harga beras.

Homma juga memaparkan beberapa pergerakan harga yang sering terjadi. Dalam proses mempelajari pergerakan tersebut, ia mengembangkan metode untuk menampilkan empat harga sekaligus, yaitu minimum, maksimum, pembukaan dan penutupan. Metode ini dikenal sebagai Candlesticks.

Homma juga dikreditkan pada buku yang diterbitkan pada tahun 1755 dengan judul The Fountain of Gold – The Three Monkey Record of Money.

Dalam buku ini, Homma menjelaskan banyak metode analisis dan buku ini dianggap sebagai salah satu buku pertama yang mempelajari aspek psikologis market.

Homma menyadari bahwa emosi para trader memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga beras dan dirinya mencatat bahwa dengan menyadari hal ini dapat memungkinkan seseorang untuk mengambil posisi melawan market.

Dia juga menggambarkan rotasi Yang (pasar bullish), dan Yin (pasar bearish) dan meletakkan prinsip pergantian: “Pasar yang telah naik pada akhirnya akan jatuh, dan pasar yang telah jatuh pada akhirnya akan naik”.

Candlesticks Jepang memberikan banyak peluang untuk menganalisis dan memiliki banyak pola khas yang akan membantu trader pemula menavigasi tradingan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here