Indikator Teknis Forex Terbaik (Bag 1)

0
9
Indikator Teknis

Indikator teknis didasarkan pada algoritma yang menggunakan data harga masa lalu dalam perhitungannya.

Dan hasilnya semua indikator teknis pada dasarnya lagging, tetapi itu tidak berarti bahwa indikator ini tidak dapat memberikan informasi yang berguna saat melakukan trading. Tanpa bantuan indikator, trader forex akan kesulitan menilai volatilitas market, kekuatan tren, atau apakah kondisi market overbought atau oversold.

Jenis indikator teknis

Indikator teknis dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama:

  • Indikator mengikuti tren
  • Indikator momentum
  • Indikator volatilitas

Indikator mengikuti tren

Indikator ini digunakan untuk menentukan tren dan untuk mengukur kekuatan market yang sedang tren. Meskipun sebagian besar trader dapat mengidentifikasi tren hanya dengan melihat grafik harga, seringkali sulit untuk mengukur kekuatannya atau untuk melihat tren di awal pembentukannya. Indikator mengikuti tren termasuk moving averages, MACD, dan ADX indicator.

Indikator momentum

Indikator ini biasanya mengukur kekuatan pergerakan harga baru-baru ini relatif terhadap periode sebelumnya. Mereka berfluktuasi antara 0 dan 100, memberikan sinyal kondisi market overbought dan oversold. Indikator ini mengembalikan sinyal jual saat harga mulai bergerak sangat tinggi, dan sinyal beli saat harga mulai bergerak sangat rendah. Beberapa contoh indikator momentum termasuk RSI, Stochastics, dan CCI.

Indikator volatilitas

Seperti namanya, indikator ini mengukur volatilitas instrumen. Trader biasanya mengejar volatilitas di market yang berbeda untuk menemukan peluang trading yang menguntungkan, yang menjadikan indikator volatilitas alat yang ampuh untuk day trader. Contoh indikator ini antara lain Bollinger Bands dan indikator ATR.

1. Moving Average

Indikator Teknis

Moving Average (MA) adalah indikator trading yang populer.  MA merupakan alat analisis teknis dalam trading forex yang menganalisis harga masa lalu secara statistik dan matematis dan menggunakan hasilnya untuk memperkirakan harga di masa mendatang.

Moving Average “menghaluskan” harga tertinggi dan terendah, membuatnya lebih mudah bagi trader untuk melihat tren secara keseluruhan. MA juga menyaring “kebisingan” (volatilitas dan koreksi pasar acak) dan membantu trader memutuskan posisi mana yang akan dimasuki dan trading sesuai dengan tren. Moving averages dapat dikelompokkan menjadi simple moving averages (SMA) dan exponential moving averages (EMA).

2. MACD

Indikator Teknis

Indikator MACD  adalah indikator teknis yang menggabungkan indikator dan osilator mengikuti tren terbaik. MACD terdiri dari dua garis dan histogram MACD. Garis MACD pertama biasanya mewakili perbedaan antara dua Moving Average (satu MA lebih cepat dan satu MA lebih lambat), sedangkan garis MACD kedua adalah Moving Average dari garis MACD pertama.

Histogram MACD mewakili perbedaan antara dua garis MACD. Intinya, ketika dua garis bersilangan, histogram MACD mengembalikan nilai nol. Saat dua garis menyimpang satu sama lain, histogram MACD mulai naik.

Indikator teknis ini sering digunakan untuk mengkonfirmasi tren dalam grafik harga. Jika bar histogram terbaru lebih tinggi dari bar sebelumnya, ini menunjukkan bahwa tren naik mulai terbentuk. Demikian pula, jika bar terbaru lebih rendah dari bar sebelumnya, ini menandakan dimulainya tren turun yang akan datang.

3. RSI

Indikator Teknis

Awalnya dikembangkan oleh J. Welles Wilder pada tahun 1978, RSI (Relative Strength Index) menjadi salah satu indikator trading paling populer lainnya. RSI mengukur besarnya perubahan harga baru-baru ini dan mengembalikan pembacaan antara 0 dan 100.

Indikator teknis ini digunakan untuk menentukan kondisi market overbought dan oversold. Angka di atas 70 biasanya menandakan bahwa market yang mendasari overbought, sementara pembacaan di bawah 30 memberi sinyal bahwa market oversold.

Strategi trading yang didasarkan pada RSI adalah membeli ketika RSI turun di bawah 30, bottom dan kemudian kembali ke nilai di atas 30. Sebaliknya, trader dapat menjual ketika RSI naik di atas 70, puncak dan kemudian kembali ke nilai di bawah 70.

Namun, perlu diingat bahwa strategi ini mengembalikan hasil terbaik di market yang tidak sedang tren, yaitu tradingan dalam kisaran tertentu.

Jika market sedang tren, nilai RSI bisa tetap overbought atau oversold untuk jangka waktu yang lama sebelum market terkoreksi. Itulah mengapa harus menggunakan filter tambahan dan menggabungkan berbagai jenis indikator teknis (mengikuti tren dan momentum) dalam strategi trading anda.

4. Bollinger Bands

Indikator Teknis

Indikator teknis lainnya adalah Bollinger Bands yang didasarkan pada Moving Average dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi volatilitas pasar saat ini.

Bollinger Bands mencakup tiga garis: Garis tengah adalah Simple Moving Averagea, dan garis atas dan bawah adalah garis-garis yang diplotkan dua deviasi standar dari Simple Moving Average sehingga membentuk pita.

Karena deviasi standar adalah ukuran volatilitas, pita melebar saat volatilitas market meningkat dan berkontraksi saat volatilitas menurun.

Fenomena ini dapat digunakan untuk membuat strategi trading yang menarik, seperti Bollinger Squeeze. Squeeze terbentuk sebagai hasil volatilitas yang rendah yang menyebabkan Bollinger Bands sangat ketat.

Trader yang mengharapkan lonjakan volatilitas setelah periode trading yang sangat lambat dapat memasuki long position ketika bar terbaru ditutup di atas pita atas dan short position ketika bar terbaru ditutup di bawah pita bawah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here