Apa Perbedaan Trading Mata Uang yang Volatil vs Stabil

0
8
mata uang

Trading forex melibatkan mata uang karena itu instrumen penting dalam industri ini. Mata uang pun berfluktuasi. Ada yang volatil dan ada pula yang cenderung stabil. Lantas apa perbedaan trading mata uang yang volatil dan yang stabil.

Apa itu volatilitas?

Volatilitas ditandai dengan perubahan harga dari aset tertentu dalam waktu singkat. Volatilitas dapat dianggap sebagai kondisi market, dan hampir semua mata uang dapat menunjukkan volatilitas pada satu waktu.

Mengidentifikasi mata uang volatil dan yang stabil

Meskipun hampir semua dapat mengalami volatilitas, mata uang tertentu cenderung lebih stabil terhadap yang lainnya. Umumnya yang stabil mewakili ekonomi yang memiliki produksi barang dan jasa yang terdiversifikasi, inflasi rendah, perdagangan yang stabil dan indikator neraca pembayaran, sistem politik yang stabil dan kebijakan moneter yang stabil.

Trader yang dapat mengidentifikasi mata uang dengan karakteristik ini mungkin lebih berhasil menerapkan range trading, di mana harga berfluktuasi antara tertinggi dan terendah yang relatif tetap. Namun, jika satu atau lebih dari indikator ini tidak stabil atau dalam periode transisi, ada kemungkinan besar bahwa harga mata uang terkait dapat menunjukkan volatilitas. Hal ini mungkin juga disebabkan oleh penyesuaian yang dilakukan pada kondisi eksternal.

Bagaimana volatilitas terjadi?

Mengapa menjadi tidak stabil? Harga umumnya ditentukan di market antar bank, di mana volume terbesar biasanya ditradingkan. Jika ada perubahan cepat dari kondisi dan informasi di market, bahkan pelaku market antar bank pun dapat menjadi tidak yakin tentang bagaimana seharusnya hargayang adil. Mereka kemudian dapat menghindari risiko dan  mengurangi jumlah yang tersedia, atau likuiditas, yang mereka tawarkan ke market.

Jika ini terjadi, perbedaan besar dalam harga, atau “celah”, diteruskan ke market mata uang tempat pembeli dan penjual individu trading. Pada titik inilah partisipan ritel dapat melihat spread yang melebar dan persyaratan margin yang lebih besar dari broker untuk menutupi risiko potensi kerugian yang lebih besar di antara para trader.

Bagaimana kita bisa tahu kapan adanya volatilitas?

Ada beberapa indikator teknis yang dapat memberi tahu trader soal volatilitas. Salah satunya adalah average true range indicator (ATR). Indikator ini membandingkan harga tinggi dan rendah dalam periode trading saat ini dengan tertinggi dan terendah dari periode trading sebelumnya untuk mendeteksi apakah kisaran harga telah melebar.

Indikator ATR melacak pergerakan harga dalam pips secara proporsional, sehingga perubahan pembacaan indikator ATR sebesar 0,0001 akan menunjukkan perubahan yang setara dengan 1 pip.

Indikator lainnya adalah relative strength index (RSI). RSI akan mengukur kekuatan tren selama beberapa periode trading baru-baru ini. Semakin tajam pergerakan dalam jangka waktu tertentu, semakin jauh harga mata uang dapat bergerak atau mungkin sebaliknya.

Selain itu indikator volatilitas adalah Bollinger Bands. Bollinger Bands membandingkan variasi harga, yang ditunjukkan oleh garis atas dan bawah pada grafik, terhadap moving average 20 periode, yang ditunjukkan oleh garis tengah. Ketika band luar melebar, ada lebih banyak volatilitas di market dan ketika menyempit, ada lebih sedikit.

Cara lain yang jelas untuk memperkirakan kemungkinan peningkatan volatilitas adalah dengan memeriksa berita, setidaknya secara berkala, mengenai peristiwa ekonomi dan politik terbaru yang dapat mempengaruhi negara dan mata uang tertentu.

Beberapa mata uang stabil dan bergejolak

Meskipun pola volatilitas dapat berubah, beberapanya mendapatkan reputasi stabilitas selama bertahun-tahun, seperti:

  • Krone Norwegia
  • Dollar Singapura
  • Dollar Selandia Baru
  • dollar Hongkong
  • Franc Swiss.

Ada juga mata uang kelas berat utama yang dipandang dapat menjaga stabilitas jangka panjang. Ini termasuk mata uang negara besar, seperti:

  • Dollar Amerika
  • Euro
  • Pound Inggris
  • Renminbi Cina
  • Yen jepang

Semua ini kontras dengan volatilitas beberapa mata uang emerging market yang lebih dipengaruhi oleh perubahan kebijakan lokal dan faktor penawaran dan permintaan global, seperti:

  • Real Brasil
  • Rubel Rusia
  • Peso Meksiko
  • Peso Argentina

Trading volatilitas rendah

Mata uang yang menunjukkan volatilitas rendah dapat berada dalam kondisi range-bound,  atau dalam tren breakout.

Setelah mengidentifikasi mata uang dalam kondisi range-bound, atau “sideways,”, trader akan  menetapkan support dan resistance. Dari sana, bisa menetapkan titik masuk. Saat membeli suatu mata uang, trade mengatur order buy beli ketika harga mata uang mencapai tingkat support dan perintah sell untuk tingkat resistance. Stop loss dapat diatur sedikit di bawah level order beli.

Rasio risk-reward untuk menetapkan stop loss adalah 1 banding 4, yang berarti jika target keuntungan ditetapkan 80 pips di atas titik masuk, maka stop loss akan ditetapkan 20 pips di bawah entry point. Namun, jika trader memiliki indikasi bahwa tren akan berlanjut, mereka mungkin ingin menerapkan strategi breakout, menetapkan order beli ketika harga menembus resistance dan trailing stop loss untuk melindungi dari reversal.

Trading volatilitas tinggi

Mata uang yang sangat bergejolak dapat ditradingkan dalam kisaran tertentu, tetapi akan lebih rentan terhadap breakout dan pergerakan yang tidak menentu. Dalam keadaan normal, breakout harga dari kisaran mungkin menyiratkan pembentukan atau kelanjutan tren. Namun, di market yang bergejolak, tidak demikian.

Harga dapat bergerak cepat dan trader dapat berisiko bahwa trading mereka tidak dapat dieksekusi pada posisi masuk atau menentukan stop loss.

Di antara rekomendasi untuk meminimalkan risiko eksekusi adalah memperluas penempatan stop loss. Jadi, jika anda biasanya bekerja dengan ukuran stop-loss 20 pips, Anda mungkin ingin meningkatkannya menjadi 40 atau 60 pips.  Jika market bergerak sesuai keinginan anda setelah masuk, anda dapat menyesuaikan stop loss secara manual ke arah target keuntungan.

Rekomendasi lain adalah mengurangi ukuran trading anda terkait dengan saldo akun. Misalnya, jika biasanya mempertaruhkan 4% dari total saldo akun dalam kondisi pasar yang stabil, anda menguranginya menjadi hanya 2% dalam kondisi yang tidak stabil untuk mengurangi risiko kerugian.

Kesimpulan

Kondisi yang tidak stabil dapat muncul kapan saja dan dengan mata uang apa pun. Namun, ada tanda-tanda mata uang mana yang lebih rentan mengalami pergerakan harga. Bahkan ada petunjuk tentang kapan mata uang yang stabil lantas berubah.

Untuk mempersiapkan pergerakan ini, trader harus mempelajari mata uang mana yang kemungkinan akan berubah dan mengikuti peristiwa dunia sehari-hari yang dapat memicu ketidakpastian.

Trader sering kali menghindari aktivitas di market ketika volatilitas muncul untuk menghindari risiko, tetapi dengan melakukan itu mereka juga dapat kehilangan peluang ketika pergerakan harga.

Untungnya, ada beberapa alat analisis teknis, indeks, dan strategi yang dapat membantu meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan bahkan ketika ketidakpastian dan volatilitas terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here